Iklan

Iklan

,

Iklan

Sumanto: Makin Cingkrang Gamis, Makin Radikal

Duta Islam #02
21 Jul 2018, 13:54 WIB Ter-Updated 2024-08-24T04:50:26Z
Download Ngaji Gus Baha
Prof Sumanto Al-Qurtuby dan Ketua Lakpesdam NU Jepara, Gus Sahil (kanan), saat diskusi di Karimunjawa, Jumat (20/07/2018) malam. Foto: dutaislam.or.id

Dutaislam.or.id - Sebutan wahabisme untuk mereka yang mengaku sebagai salafi atau muwahhidun, ternyata tidak selamanya diterima warga Saudi Arabia. Pasalnya, julukan itu adalah stigma hasil promosi media Barat dan sarjana-sarjana Barat yang sering memakai sebutan wahabisme untuk menandai pemikiran dan laku radikalisme global.

"Sebutan wahabi di Saudi itu sudah sangat buruk," jelas Prof. Sumanto Al-Qurtuby, dosen King Fahd University, Saudi Arabi, saat liburan ke Karimunjawa, Jepara, Jumat (20/07/2018) malam.

Dalam diskusi kecil bertema "Politik Islam Tiimur Tengah" tersebut, Kang Sumanto, -panggilan akrab Prof. Sumanto Al-Quruby,- menyatakan wahabisme yang di tanah Saudi sudah sejak lama mengalami degradasi.

"Mereka lebih suka disebut salafi atau hambali karena sebutan wahabi sudah tidak pas," terangnya kepada pengurus Lakpesdam NU Jepara dan Dutaislam.or.id, sembari melanjutkan keterangan kalau wahabi di Saudi itu ada yang ekstrimis, moderat dan bahkan liberal.

Saat mengajar di kelas misalnya, Kang Sumanto bisa melihat fenomena degradasi wahabisme di Saudi. Kata pria asli Batang tersebut, corak wahabisme bisa dilihat dari, setidaknya, cara bersikap dan berpakaian mereka di kampus.

Kalangan mahasiswa yang berpaham wahabi ekstrim akan keluar dari kelas jika Kang Sumanto memutar video antropologi, "ya saya persilakan keluar kelas jika keberatan, tapi mereka ini saya minta balik kembali ke kelas untuk diskusi atas video yang mungkin dianggapnya menggangu keimanan golongan wahabi ekstrim," lanjutnya.

Selain itu, mereka yang berpaham wahabi ekstrim dapat dilihat dari cara berpakaian, "makin cingkrang gamis, makin radikal, dan agak ke bawah gamisnya makin moderat, bahkan liberal jika sudah mau pakai celana dan sandal," tegasnya.

Sayangnya, yang paling banyak terjadi adalah wahabi pragmatis atau wahabi oportunis, yang sengaja mengaku ikut paham ideologi agama resmi untuk harta dan kekuasaan. "Wahabi beneran kan nggak ngerokok, kok ada wahabi udad-udud, ya dia wahabi KW (abal-abal)," jelasnya dsambut tawa peserta diskusi dari Lakpesdam NU Jepara. [dutaislam.or.id/ab]

Iklan

close
Iklan Flashdisk Gus Baha