Ilustrasi memberikan kesaksian kepada mayit. Foto: istimewa. |
Dutaislam.or.id - Boleh atau tidak kita bersaksi kepada mayit yang selama hidupnya kaslan lis shalat (malas mengerjakan shalat). Amalnya juga fasiq dan munafiq.
Kesaksian itu dilakukan karena mengikuti keterangan hadits nomor 30 Kitab Ushfuriyah yang artinya: "dari Amir bin Rabi'ah, dari Nabi Saw, bersabda: ketika hamba meninggal, dan Allah mengetahui darinya kejelekan....".
Jawaban:
Memberi kesaksian bagus kepada mayit tersebut hukumnya tidak boleh, dan termasuk sebagai saksi palsu. Soal dia mendapatkan ampunan dari Allah, itu sangat mungkin.
Referensi:
1. Kitab Fawa'idul Makkiyah (hlm: 133)
ويُستحب الثناء على الأموات بذكر مَحاسنِهم ويجب الكفُّ عن مساويهم ويجوز سبّ أموات الكفار ولهذا قصّ الله سبحانه علينا أخبارَهم ولا يجوز سب أموات المسلمين إلا أن يكون مبتدِعا مُعْلنا ببدعته او فاسقا مُجاهرا بحيث تجوز غِيبته لو كان حيًا فيجوز ذكره بما أعْلَنه فقط الخ
2. Kitab Nihayatuz Zain (hlm: 150)
إذا رأى من المبتدع أمارة خير يكتمها لئلا يعرى الناس على الوقوع في مثل بدعته وضلالِه بل لا يبعد وجوب الكتمان
Keterangan:
Ini adalah hasil putusan sidang Syuriah MWC NU Margoyoso, Jepara pada 26 Sya’ban 1400 H/9 Juli 1980 M.
Jika Anda ingin membaca teks aslinya, silakan download JPEG nya melalui link yang telah kami sediakan DISINI. [dutaislam.or.id/ab]