![]() |
Ilustrasi air kehidupan. Foto: istimewa. |
Dutaislam.or.id - Dalam kitab "Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah" karya Syaikh Ahmad Shawi Al-Maliki pada halaman 5, dijelaskan sebuah riwayat dari guru-guru besar, termasuk Sayyid Mushtofa Al-Bakri, yang menyebutkan bahwa menurut tafsir Al-'Ala'i, Nabi Khidir dan Nabi Ilyas memiliki kehidupan abadi hingga hari kiamat.
Nabi Khidir disebutkan berkeliling di lautan untuk memberikan petunjuk kepada mereka yang tersesat di sana, sedangkan Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung untuk menolong orang-orang yang tersesat di daerah tersebut. Ini adalah kegiatan mereka pada siang hari.
Sedangkan pada malam hari, keduanya berkumpul di Bukit Ya'juj wa Ma'juj (يأجوج و مأجوج), di mana mereka bertugas untuk menjaganya. Riwayat dari Ibnu Abbas ra. menyatakan bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun di Mina (Saudi Arabia) selama musim haji.
Dalam pertemuan tersebut, mereka saling mencukur rambut satu sama lain secara bergantian, kemudian berpisah dengan mengucapkan kalimat berikut:
بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله بسم الله ما شاء الله لا يصرف السوء الا الله بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله
Maka, barangsiapa yang mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore, akan dilindungi dari berbagai malapetaka seperti tenggelam, kebakaran, pencurian, gangguan setan, ancaman penguasa zalim, serta bahaya ular dan kalajengking.
Selain itu, dalam riwayat dari Ibnu 'Asakir, dijelaskan bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas menjalani puasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan melaksanakan ibadah haji setiap tahun. Keduanya juga minum air zamzam, yang dengan sekali tegukan dapat mencukupi kebutuhan mereka, sebagaimana minuman Kabil.
Beberapa ulama menyampaikan berbagai pandangan mengenai asal-usul Nabi Khidir. Ada yang berpendapat bahwa beliau adalah putra Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Pendapat lain menyebutkan bahwa beliau adalah putra Halqiya, atau putra Kabil bin Adam.
Sebagian lagi menyatakan bahwa beliau merupakan cucu dari Nabi Harun as, anak dari bibi Iskandar Dzul Qarnain. Bahkan ada yang mengklaim bahwa beliau berasal dari golongan malaikat.
Namun, pendapat yang paling shahih menurut ulama jumhur adalah bahwa Nabi Khidir adalah seorang Nabi yang masih hidup hingga kini. Beliau akan tetap hidup hingga hari kiamat dan baru akan wafat ketika Al-Qur'an diangkat serta setelah Dajjal membunuhnya, meskipun Allah akan membangkitkannya kembali.
Diyakini bahwa umur panjang yang diberikan kepada Nabi Khidir adalah karena beliau telah meminum air kehidupan, yang memberinya umur panjang yang luar biasa. [dutaislam.or.id/ab]